Saturday, December 28, 2013

sorogan


Sorogan Metode Pembelajaran
di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran

Metode  pembelajaran sorogan di pondok pesantren, khususnya di Pondok Pesantren Sunan Pandanaraan Yogyakarta, yang di gunakan dalam mempelajari kitab-kitab. Seperti halnya kitab tafsir, nahwu, shorof dll. Dan  sorogan berasal dari kata sorog yang artinya maju. Disebut demikian karena dalam sistem sorogan ini, santri menghadap ustadz seorang demi seorang dengan membawa kitab yang telah dipelajari. Belajar face to face dengan ustadz dimana para santri menunggu giliran untuk berguru dan bertatap muka satu persatu. Di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, metode ini diberikan kepada para santri yang baru masuk dan memerlukan bimbingan secara individual.
 Dan juga diantara kelebihan-kelebihan metode sorogan adalah Terjadi hubungan yang harmonis dan erat antara ustadz dan santri, Memungkinkan bagi seorang ustadz untuk membimbing secara maksimal. Ustadz mengetahui secara pasti kualitas yang di capai santrinya. Santri yang IQ-nya tinggi akan cepat menyelesailkan materi pelajaran (kitab), sedangkan santri yang IQ-nya rendah, ia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikanya.
Dalam pelaksanaan metode sorogan ini tentunya ada perbedaan antara santri yang junior atau santri pemula dengan santri senior. Bagi santri pemula, mereka mendatangi ustadz yang akan membacakan kitab yang akan dipelajari dan mendengarkanya. Sedangkan untuk santri senior, mereka mendatangi seorang ustadz supaya sang ustadz mendengarkan sekaligus memberikan koreksi terhadap bacaan kitab mereka. Metode sorogan dianggap telah terbukti secara efektif mampu meningkatkan semangat dan kemampuan santri dalam belajar dan menguasai kitab. Namun demikian, metode tersebut dianggap sulit dari keseluruhan sistem metode pendidikan islam tradisional, sebab menuntut kesabaran, ketekunan, kerajinan, ketaatan, disiplin pribadi santri dan kemandirian belajar santri tersebut.
Dan beberapa kekurangan metode sorogan yang di terapkan di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran adalah ketidak efisienan pembelajaran, karena hanya menghadapi beberapa santri saja, sehingga kalau menghadapi santri banyak, metode sorogan ini kurang maksimal dalam pembelajarannya. Dan santri juga kadang muncul rasa malas semata, terutama mereka yang kurang paham dengan bahasa atau terjemahan kitab. Apalagi pondok pesantren sunan pandanaran tersebut mempunyai santri yang berasal dari berbagai macam daerah. Seperti Magelang, Boyolali, Wonosobo, Kendal, Tegal, Jambi, Kalimantan dll. Yang mempunyai bahasa yang berbeda-beda. Ini menjadikan para santri kesulitan dalam memahami kitab yang akan di pelajari tersebut, karena bahasa yang biasa di gunakan dalam kitab adalah termasuk bahasa Jawa lembut.

Jadi, agar metode pembelajaran sorogan ini tetap berjalan dengan lancar dan santri yang belum bisa memahami bahasa jawa juga dapat mengerti maksud dari isi kitab tersebut adalah perlu adanya kelas-kelas pemisah, antara santri senior dan santri junior dan pada kelas tersebut juga mempunyai tingkatan atau mempelajari kitab yang berbeda pula, karena apabila santri junior disamakan kelasnya, dan kitab yang di pelajari juga sama dengan yang senior, maka para santri junior akan kualahan, karena belum bisa mengimbanginya. Para  ustadz dalam menerangkan kitab juga memakai bahasa yang resmi atau bahasa Nasional Indonesia. Agar, para santri dari berbagai macam daerah tersebut dapat memahami kandungan-kandungan yang ada dalam kitab yang akan di pelajari tersebut.

No comments:

Post a Comment

up to you